Survey Pertama, Sapaan Pertama Ketika Mahasiswa KKL Belajar Menjadi Keluarga di Desa Umapura
Kedatangan mahasiswa KKL STKIP Muhammadiyah Kalabahi di Desa Umapura Ismail Leky, Esi, Suamntri, Suriati, Widiawati djuru bukan sekadar perpindahan titik di peta akademik. Hari pertama menjadi momen paling jujur, paling apa adanya, sekaligus paling menentukan. Bukan soal program kerja, bukan soal laporan, melainkan soal perasaan: diterima atau tidak diterima.
Survey lokasi yang dilakukan mahasiswa pada hari pertama adalah ruang perjumpaan manusia dengan manusia. Mahasiswa menyusuri jalan desa, melihat rumah warga, menyapa anak-anak, bertukar senyum dengan orang tua, dan berbincang singkat di beranda rumah. Hal kecil, efeknya besar.
Sapaan sederhana seperti “Assalamu alaikum wr,wb selamat sore” menjadi jembatan awal. Senyum tulus warga Umapura menjawab kegugupan mahasiswa yang baru pertama kali menginjakkan kaki di desa penugasan. Rasa asing pelan-pelan luruh. Jarak sosial menyempit. Kekakuan mencair.
Mahasiswa tidak datang sebagai orang paling tahu. Mereka hadir sebagai tamu yang belajar. Survey lokasi merupakan proses mengenal denyut kehidupan. Siapa yang tinggal di mana, anak-anak belajar di waktu apa, ibu-ibu berkumpul di sore hari, bapak-bapak pulang dari laut, mama-mama menenun dengan wajah letih sekaligus bangga.
Keakraban tumbuh bukan karena seremoni. Ia hadir karena ketulusan. Warga tidak menunggu mahasiswa dengan spanduk atau pidato panjang. Warga menyambut dengan senyum, pertanyaan sederhana, dan ajakan singgah. Di situlah rasa kekeluargaan mulai terbangun.
Mahasiswa belajar bahwa membangun hubungan sosial tidak membutuhkan teori rumit. Cukup hadir, menyapa, mendengar, dan menghormati. Desa Umapura mengajarkan bahwa keramahan bukan basa-basi, melainkan nilai hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam interaksi awal tersebut, mahasiswa juga menyadari satu hal penting: masyarakat desa tidak pernah menilai dari status kampus, gelar, atau almamater. Warga menilai dari sikap. Cara berbicara. Cara berjalan. Cara menatap. Cara mendengar.
Survey lokasi hari pertama menjadi cermin. Mahasiswa bercermin pada dirinya sendiri. Apakah benar-benar siap hidup bersama masyarakat, bukan sekadar tinggal sementara. Apakah siap belajar dari kehidupan yang berjalan apa adanya, jauh dari ruang kelas dan presentasi PowerPoint.
Kekeluargaan yang terjalin pada hari pertama menjadi fondasi bagi seluruh program KKL. Tanpa kepercayaan, program hanya akan menjadi daftar kegiatan. Dengan keakraban, setiap aktivitas berubah menjadi kolaborasi.
Mahasiswa KKL STKIP Muhammadiyah Kalabahi menemukan bahwa Desa Umapura adalah ruang hidup. Tempat manusia saling menjaga, saling menegur, saling merawat. Mahasiswa tidak berdiri di atas masyarakat, melainkan berjalan bersama.
Ketika mahasiswa menyapa dengan bahagia, masyarakat menjawab dengan kehangatan. Rasa kekeluargaan tidak diprogramkan, ia tumbuh. Dan dari situlah keakraban terus dijalin, hari demi hari, tanpa paksaan.
Dan mahasiswa KKL sedang belajar ke arah sana.
Penulis: M

0 Komentar