Gotong Royong Pelajar SD dan SMP Angkut Batu Merah untuk Pembangunan SMA di Desa Umapura
STKIPMUHKAI – Semangat gotong royong terlihat kuat di Desa Umapura, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, saat pelajar Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama turut ambil bagian dalam proses pembangunan gedung Sekolah Menengah Atas. Anak-anak membawa batu merah secara bergiliran menuju lokasi pembangunan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan pendidikan di desa mereka (21/01/26)
Kegiatan berlangsung pada siang hari dengan melibatkan siswa, mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan STKIP Muhammadiyah Kalabahi, serta warga sekitar. Jalur yang dilalui anak-anak dari titik pengambilan batu menuju area pembangunan menjadi saksi kolaborasi lintas usia yang jarang ditemukan dalam pembangunan fasilitas pendidikan di wilayah kepulauan.
Seorang siswa SMP yang ikut mengangkat batu merah mengaku senang bisa terlibat langsung. Ia menyampaikan bahwa keberadaan SMA di desa menjadi harapan besar agar anak-anak Umapura tidak perlu menyeberang laut demi melanjutkan pendidikan.
“Kami senang bisa bantu. Kalau SMA sudah jadi, adik-adik dan kakak-kakak nanti sekolah dekat rumah,” ujar salah satu siswa sambil memegang batu merah di tangannya.
Desa Umapura secara geografis berada di wilayah pesisir. Selama bertahun-tahun, akses pendidikan tingkat atas menjadi tantangan bagi warga. Banyak anak harus menempuh perjalanan laut dengan perahu menuju desa lain untuk bersekolah. Kondisi tersebut tidak jarang menimbulkan risiko keselamatan, terutama pada musim cuaca buruk.
Kepala desa setempat menyampaikan bahwa pembangunan SMA merupakan hasil kesepakatan bersama masyarakat. Keterlibatan anak-anak dalam kerja bakti menjadi simbol kuat kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan.
“Pendidikan bukan hanya urusan orang dewasa. Anak-anak juga punya rasa memiliki. Kehadiran mereka membawa batu menjadi bukti bahwa sekolah sudah hidup bahkan sebelum bangunannya berdiri,” ungkapnya.
Mahasiswa KKL STKIP Muhammadiyah Kalabahi yang mendampingi kegiatan tersebut menilai partisipasi pelajar sebagai pembelajaran sosial yang bernilai tinggi. Anak-anak belajar tentang tanggung jawab, kebersamaan, serta arti berkontribusi bagi desa.
Salah satu mahasiswa KKL menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar kerja fisik. Nilai yang ditanamkan jauh lebih besar, yakni membangun kesadaran sejak dini bahwa pendidikan lahir dari perjuangan bersama.
“Anak-anak tidak sekadar membantu. Mereka sedang menanam ingatan bahwa sekolah mereka dibangun dengan tangan mereka sendiri,” tutur mahasiswa tersebut.
Data pendidikan Kecamatan Alor Barat Laut menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah tingkat dasar dan menengah pertama cukup stabil. Tantangan terbesar muncul pada jenjang SMA akibat keterbatasan sarana di desa-desa pesisir. Kehadiran SMA di Umapura diharapkan menekan angka putus sekolah dan memperluas akses pendidikan lanjutan.
Warga yang ikut menyaksikan kegiatan tersebut tampak memberikan dukungan moral kepada para pelajar. Beberapa orang tua turut membantu mengatur jalur angkut batu agar aman bagi anak-anak. Suasana kekeluargaan terlihat jelas sepanjang kegiatan.
Seorang tokoh masyarakat Umapura menyampaikan bahwa gotong royong merupakan identitas sosial warga Alor yang terus dijaga lintas generasi. Melibatkan pelajar dianggap sebagai langkah penting dalam merawat nilai tersebut.
“Kalau sejak kecil sudah diajak bekerja bersama, rasa peduli akan tumbuh. Sekolah bukan bangunan kosong, sekolah adalah harapan,” katanya.
Material batu merah yang diangkut berasal dari area sekitar desa. Proses pengumpulan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan masyarakat. Hingga saat kegiatan berlangsung, pembangunan SMA telah memasuki tahap awal pondasi.
Pembangunan SMA Umapura melengkapi jenjang pendidikan yang telah ada. Desa tersebut telah memiliki Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, serta Sekolah Menengah Pertama. Kehadiran SMA akan menjadikan Umapura sebagai salah satu desa dengan akses pendidikan lengkap di wilayah Alor Barat Laut.
Dari sudut pandang sosial, keterlibatan pelajar dalam pembangunan sekolah menunjukkan pendidikan sebagai proses hidup, bukan sekadar ruang belajar formal. Anak-anak tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat, melainkan juga subjek pembangunan.
Pengamat pendidikan lokal menilai bahwa praktik partisipatif seperti yang terjadi di Umapura patut diperhatikan pemerintah daerah. Pembangunan berbasis partisipasi masyarakat terbukti meningkatkan rasa memiliki dan keberlanjutan fasilitas publik.
“Sekolah yang dibangun bersama akan dijaga bersama. Model seperti ini relevan untuk wilayah kepulauan dengan keterbatasan anggaran,” ujarnya.
Dokumentasi kegiatan dilakukan oleh mahasiswa KKL sebagai arsip pengabdian dan bahan publikasi edukatif. Foto-foto pelajar membawa batu merah menjadi simbol kuat perjuangan pendidikan dari desa.
Ke depan, masyarakat berharap dukungan lebih luas dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pendidikan. Infrastruktur, tenaga pendidik, serta sarana penunjang menjadi kebutuhan lanjutan setelah pembangunan fisik sekolah.
Kegiatan gotong royong bersama pelajar SD dan SMP di Umapura menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab institusi, melainkan gerakan sosial yang tumbuh dari kesadaran bersama. Dari tangan-tangan kecil yang mengangkat batu, tumbuh harapan besar bagi masa depan generasi Alor.
Redaksi

0 Komentar